Mengenal Build Tools Gradle

Bagi para pengembang aplikasi, mungkin pernah mendengar istilah ant, gradle, maven, nodejs, npm, composer atau bower ketika sedang mencari sesuatu. Namun apakah yang dimaksud dengan istilah-istilah tersebut ?

Istilah-istilah tersebut merupakan beberapa contoh build tools yang digunakan oleh java, php, atau javascript. Build tools itu sendiri adalah program yang mengotomatiskan proses eksekusi aplikasi dari suatu soure code. Pada dasarnya proses otomatisasi dilakukan oleh pengembang aplikasi untuk melakukan hal hal seperti:

1. Mendownload dependencies.

2. Mengcompile dan mempackaging source code kedalam binary.

3. Melakukan deployment ke production sistem.

Setiap build tools yang digunakan memiliki konfigurasi yang berbeda beda agar dapat berjalan. Contohnya untuk build tools gradle, langkah pertama agar gradle dapat berjalan adalah dengan cara mendownload gradle terlebih dahulu lalu ekstrak hasil file download tersebut. Selanjutnya tambahkan variabel GRADLE_HOME pada environtment variabel (klik kanan my computer -> properties -> advance system settings ->environtment variable ), dan tambahkan juga GRADLE_HOME\bin pada variable path. Agar mengetahui apakah gradle sudah terpasang atau belum, cukup ketikkan gradle -v pada console cmd.

Konfigurasi gradle ada pada file build.gradle. Berikut adalah contoh isi dari file build.gradle

buildscript {
   ext {
      springBootVersion = '2.0.3.RELEASE'
   }
   repositories {
      mavenCentral()
   }
   dependencies {
      classpath("org.springframework.boot:spring-boot-gradle-plugin:${springBootVersion}")
   }
}

apply plugin: 'java'
apply plugin: 'eclipse'
apply plugin: 'org.springframework.boot'
apply plugin: 'io.spring.dependency-management'

group = 'id.co.akhdani'
version = '0.0.1-SNAPSHOT'
sourceCompatibility = 1.8

repositories {
   mavenCentral()
}


dependencies {
   // Apache commons
   compile group: 'org.apache.commons', name: 'commons-lang3', version: '3.7'
   compile group: 'commons-codec', name: 'commons-codec', version: '1.9'
   // DB Connection Pool
   compile group: 'com.zaxxer', name: 'HikariCP', version: '3.2.0'

   // thymeleaf
   compile('org.springframework.boot:spring-boot-starter-thymeleaf')
   compile group: 'nz.net.ultraq.thymeleaf', name: 'thymeleaf-layout-dialect', version: '2.3.0'
   compile('org.thymeleaf.extras:thymeleaf-extras-springsecurity4')

   runtime('org.postgresql:postgresql')

   runtime('org.springframework.boot:spring-boot-devtools')
   testCompile('org.springframework.boot:spring-boot-starter-test')
   compile('org.springframework.boot:spring-boot-starter-web')

   compile group: 'com.fasterxml.jackson.core', name: 'jackson-databind', version: '2.9.6'
   compile group: 'com.fasterxml.jackson.core', name: 'jackson-core', version: '2.9.6'

}

Untuk menambahkan suatu library gradle  kedalam project yang sedang dikerjakan, dapat dilakukan dengan cara menambahkan nya pada file build.gradle, dependencies. Sebagai contoh, kita ingin menambahkan library hikaricp kedalam project, langkah pertama yang dilakukan adalah dengan cara mencari nya pada google, biasanya akan diarahkan pada situs mvnrepository.com. setelah selesai memilih versi berapa yang akan dipakai, klik pada tab gradle, lalu copy tulisan yang ada pada tab tesebut (misal)

   compile group: 'com.zaxxer', name: 'HikariCP', version: '3.2.0'

kedalam dependencies, sehingga dependencies nya akan menjadi seperti ini

dependencies {
   // DB Connection Pool
   compile group: 'com.zaxxer', name: 'HikariCP', version: '3.2.0'
}

 

Setelah project selesai dibuat, langkah selanjutnya adalah melakukan build project. caranya dengan mengetikkan

gradle build

pada console atau terminal. gradle build berfungsi untuk mengkompile code kedalam suatu jar file yang dapat dieksekusi. Apabile build berhasil makan akan muncul tulisan

BUILD SUCCESSFUL

 

Sumber

https://www.techopedia.com/definition/16359/build-tool

https://www.okedroid.com/2016/10/belajar-mengenal-gradle-di-android-studio.html

http://ansorpunya.blogspot.com/2014/12/memulai-spring-dengan-gradle.html

https://spring.io/guides/gs/gradle/#initial

Google Doodle : Prof. Samaun Samadikun

Google Doodle hari ini menampilkan seorang sosok asal Indonesia, Prof. Samaun Samadikun. Profil dan perjalanan Prof. Samaun, dapat ditemukan pada Wikipedia dan buku Sang Petani Silikon terbitan LIPI. Salah satu cerita yang pernah saya dengar, sepulang dari Stanford beliau bermimpi ada Silicon Valley di Indonesia. Beliau berhasil melobi Fairchild Semiconductor untuk menggerakkan industri semikonduktor Indonesia. Namun pemerintah pada saat itu tidak tertarik karena industri semikonduktor tidak padat karya, sementara Fairchild beranggapan sudah saatnya menerapkan padat teknologi. Fairchild pun akhirnya hengkang ke Malaysia.
FYI, Robert Noyce dan Gordon Moore adalah founder Fairchild yang kemudian mendirikan Intel.

Fun facts : secara tidak langsung Prof. Samaun juga memiliki andil terhadap Akhdani, kok bisa? Tentu saja, karena Prof. Samaun adalah guru bagi para mentor kami di PAU pada saat itu (Pak Kastam Astami, Pak Basuki Suhardiman, dkk). Ilmu dan cara berpikir yang kami terima dari mentor-mentor kami, sedikit banyak pasti ada pengaruh dari Prof. Samaun. Beliau juga menjadi guru bagi para aktivis seperti Pak Budi Rahardjo (semasa jadi mahasiswa tingkat 1, penulis pernah memakai user & password pak Budi untuk akses internet gratis di kampus, apalagi saya bukan mahasiswa Elektro, mohon maaf pak :D ) dan Pak Onno W. Purbo.

Cikal bakal Akhdani dimulai dari rapat-rapat 10 orang mahasiswa Informatika di lantai 2 gedung Labtek V ITB dan episode prequel kemudian berlanjut ke sebuah ruangan bekas gudang di gedung PAU ITB lantai 2. Walau bekas gudang, tapi ada meja, stop kontak listrik dan akses internet. Internet adalah barang mewah pada saat itu bung …. :) . Pada era ini, seingat penulis, kami sempat sedikit membantu dan bekerja sama dengan beberapa tim riset PAU, seperti :

  • Radiosonde
  • Pemanfaatan Pengenalan Citra untuk menghitung jumlah kendaraan di pintu tol jasa marga
  • Remote surveilance dengan kompresi video via GPRS streaming pada pesawat RC (jaman itu belum ada drone, HSDPA apalagi LTE, action camera GoPro ya :) )
  • AMR untuk membaca meter listrik secara otomatis
  • Mobile Telemedicine, perangkat ala koper James Bond berisi monitor (diambil dari LCD laptop), ECG, modem, dll. Memungkinkan tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan kesehatan dan mengirim data kesehatan pada daerah rural

Episode di PAU memberikan banyak pengalaman dan melandasi pemikiran bahwa :

  • untuk mendapatkan impact yang lebih besar kita harus bisa bekerja sama dalam tim multi-disiplin
  • jangan terjebak dalam arogansi keilmuan atau pengkotak-kotakan, misalnya Informatika, Elektro, software vs hardware, marketing vs engineer. Semua punya peran masing-masing, saling mengisi.
  • jangan mengecilkan orang lain, tidak ada orang yang bisa sukses sendirian tanpa bantuan orang lain

Penulis sempat sekali bertemu Prof. Samaun dengan kemeja putihnya di lift PAU ITB. Beliau memperlihatkan gestur memberikan kesempatan pada penulis agar masuk lift terlebih dahulu ketimbang beliau, padahal apalah artinya penulis ini dibanding beliau. Aura beliau menunjukkan kesederhanaan dan respek kepada orang lain. Benar-benar manifestasi dari prinsip adab sebelum ilmu. Prinsip yang sayangnya makin dilupakan masyarakat sekarang di era internet dan sosial media yang kekinian.

Waktu itu, program-program inkubasi start up belum lah semeriah sekarang. Dua tahun di PAU, kami merasa tidak enak terus menerus dibantu, terutama oleh Pak Kastam. Kami kemudian memberanikan diri keluar dari zona nyaman untuk mandiri dan membuat perusahaan dengan nama Akhdani Reka Solusi, kantor pertama kami waktu itu di depan pasar Citamiang Bandung. Ruangan ngoprek di gedung PAU ITB lantai 2 kemudian kami estafetkan kepada adik kelas Informatika angkatan 2003. Di tahun yang sama dengan berdirinya Akhdani secara de facto, Prof. Samaun berpulang kepada Ilahi karena sakit.

Pak Harry Sufehmi (seorang praktisi IT) sewaktu SMA ternyata juga pernah bertemu dan mendapatkan inspirasi dari beliau. Semoga ke depan makin banyak tokoh seperti Prof. Samaun Samadikun. Visioner, humble, penuh mimpi dan dapat menjadi teladan bagi generasi muda, terutama dalam prinsip adab sebelum ilmu.

Bacaan lainnya :

Evaluasi Untuk Para Enterpreneur Pemula Part-2

Lanjutan dari tulisan sebelumnya

  1. Hati-hati dengan pendapatan dan gaya hidup

    Ketika bisnis mulai bagus, biasanya pendapatan akan mulai terlihat. Uang sering kali bisa mengubah karakter orang. Berhati-hatilah dengan sifat hati kita yang mudah berbolak-balik. Harap diingat bahwa uang hanyalah alat tukar, bukan tujuan. Kembali lagi ke tujuan awal kita ini bisnis untuk apa, diharapkan bisnis yang membawa manfaat. Pendapatan boleh naik, tapi gaya hidup tetap sederhana dan naikkan sedekah.

  2. Hati-hati dengan motivasi berlebihan

    Hati-hati dengan provokasi “Keluar Kerja!”, “Pakai Otak Kanan! Gak usah mikir” dan jebakan-jebakan semangat lainnya yang kadang menghilangkan akal sehat. Lagi-lagi ini pisau bermata dua, maksudnya secara positif di sini adalah penyemangat bagi orang- orang yang sudah siap untuk berbisnis tapi belum juga berani full berbisnis. Penyemangat ini bukan untuk mereka yang mudah putus asa, tidak punya basic berbisnis, dan masih labil.

    Kita harus paham, ketika memutuskan berbisnis itu cuma dua kemungkinannya: tambah sejahtera dan tambah bangkrut. Dan segala hal yang diputuskan tanpa persiapan selalu gagal pada akhirnya. Bisnis butuh banyak sekali persiapan, jangan terburu-buru. Banyak juga karyawan yang gajinya besar (bisa mencapai ratusan juta) dan hidupnya tenang-tenang saja.

    Jadi, tidak bisa menjadi alasan yang 100% benar, jika kita memilih menjadi pebisnis dengan tujuan untuk mendapatkan uang yang banyak, karena jadi karyawan pun sangat bisa. Jangan sebagai pebisnis kita banyak omong, merasa tinggi dan menghakimi profesi karyawan, sementara pendapatan kita bisa jadi belum sampai sepersepuluh dari karyawan.

  3. Fokus

    Walau akan banyak peluang yang terlewat, dengan fokus kita akan belajar memahami kuda-kuda yang kuat, kesabaran, logika, pola, dan kesiapan ketika ada peluang yang datang.

  4. Tidak ada salahnya bekerja lebih dahulu

    Tidak semua orang bisa langsung menjadi pebisnis. Ketika Anda bekerja
    terlebih dulu, Anda dapat melihat dari hulu ke hilir bagaimana keseluruhan industrinya sampai akar-akarnya. Pengalaman ini akan membantu Anda ketika nanti berbisnis. Jika Anda tidak mau belajar terlebih dahulu, maka carilah partner yang sudah memahami industrinya sampai ke akar-akarnya. Pertanyaannya, apakah ada partner berpengalaman yang mau bermitra dengan orang yang belum berilmu? Bisa saja jika Anda direkomendasikan oleh seseorang yang sangat terpercaya. Di sinilah pentingnya integritas diri dan kepercayaan dari pihak lain.

  5. Catat dan coba mengerti akuntansi

    Bisnis berbicara tentang angka, bukan perasaan. Anda harus bisa menjawab pertanyaan mengenai performa bisnis dengan angka-angka, konsekuensinya semua harus tercatat. Pencatatan dalam bisnis adalah akar, oleh karena itu, suka tidak suka kita harus mempelajari ilmu akuntansi. Apabila tidak ingin mengerti akuntansi, ajak partner yang mengerti, namun tidak serta-merta menghilangkan kewajiban bagi Anda untuk mempelajari akuntansi. Kembali lagi, apakah ada partner yang mau diajak oleh orang yang malas belajar?

  6. Buatlah bisnis untuk memenuhi kebutuhan pasar, bukan keinginan pribadi/tim

    Disinilah riset diperlukan, secara online kita punya tools semacam google keyword planner tools, google trend, FB audience insight, hingga paper-paper baik secara makro maupun mikro. Butuh riset mendalam, jangan berbasis asumsi. Bisnis itu dunia riil, apalagi jika menjadi tulang punggung utama, kalau kita tidak dapat pendapatan, ya bakal sengsara.

  7. Perbaiki hubungan dengan orang tua dan pasangan hidup

    Boleh percaya atau tidak, jika hubungan dengan orang tua tersumbat, maka aliran rezeki juga akan tersumbat. Jangan-jangan segala usaha, ilmu, doa, tim kompak tapi kok masih mentok juga, bisa jadi kita masih terhambat karena punya dosa terhadap orang tua. Demikian juga terhadap pasangan hidup (suami atau istri).

  8. Jadilah SUBYEK, jangan terus menerus jadi OBYEK

    Anda harus sadari memiliki kuasa atas diri sendiri. Dalam konteks bisnis kita juga harus menjadi pemimpin, sebelum berkuasa atas orang, kita harus bisa menguasai diri kita sendiri terlebih dahulu.

    Leadership adalah aspek penting dalam bisnis. Ketika kita masih jadi obyek yang disuruh-suruh, karena kita sendiri tidak memiliki inisiatif, maka bisnis kita tak akan pernah maju. Jadilah subyek, mulailah dengan berinisiatif atas masalah-masalah yang terjadi di sekitar kita. Hadapi masalah dan selesaikan, jangan nunggu disuruh, karena kita bukan pesuruh.

    Dan bedakan antara leader dan boss. Boss hanya sekedar menyuruh /  memberikan perintah, sementara leader akan cenderung menggerakkan melalui  teladan dan contoh.