Mengenal Keamanan API (Application Programming Interface)

API (Application Programming Interface) merupakan sekumpulan sintak yang berisi perintah atau fungsi yang dapat digunakan untuk berinteraksi dengan sistem operasi tertentu atau dengan sistem lainnnya. Sebuah API dapat diimplementasikan dengan menulis sintaks dalam program yang menyediakan sarana untuk meminta layanan program tersebut.

Sebagai contoh, Facebook menyediakan API sehingga para pengembang website dapat mengintegrasikan komentar di websitenya langsung melalui komentar akun Facebook si pengunjung, atau yang lebih spesifik lagi API Facebook juga dapat digunakan untuk membuat fungsi auto post artikel ke Facebook saat artikel di website ditambahkan. Semua ini dapat dilakukan karena Facebook menyediakan API untuk dapat mengakses sebagian fungsi dari program Facebook.

Berikut adalah ilustrasi permintaan layanan data pelanggan ke sistem (misalnya) X menggunakan API:

contoh-api

Sistem X mengembalikan data pelanggan sesuai dengan permintaan yang diminta oleh client dengan berbagai format data yang disediakan oleh sistem, misalnya JSON, XML, dan sebagainya. Pada contoh di atas, data yang dikirimkan oleh sistem X merupakan data pelanggan dan bisa dibayangkan apabila ketika data pelanggan yang dikirimkan kepada client di tengah jalan sebelum diambil oleh seseorang atau hacker untuk kepentingan yang tidak seharusnya? Misal data yang diambilnya adalah nomor telepon, alamat, dan nomor kartu kredit. Tentunya hal tersebut tidak boleh terjadi ketika menggunakan API. Oleh karena itu, API  harus didesain sebagus mungkin agar terhindar dari hal-hal semacam itu.

Ada tiga faktor utama yang menjadi sasaran hacker terhadap penggunaan API. Ketiga faktor itu adalah parameter, identitas, man-in-the-middle. Berikut adalah penjalasan dari ketiga faktor tersebut.

  1. Parameter, sasaran ini dilakukan dengan cara mengirimkan data input secara terus menerus kepada suatu fungsi API agar hacker mendapatkan data yang diinginkan olehnya, sepertinya misalnya data pelanggan. Para hacker dapat membaca respon balikan dari API, karena biasanya API mendefinisikan dengan jelas data balikan yang dikirim. Sasaran ini memang bukan hal baru, namun sering banyak digunakan karena kebanyakan developer mengabaikan untuk memfilter inputan pada api yang digunakan.
  2. Identitas, dilakukan dengan cara mengekploitasi kelemahan dari otentikasi, otorisasi dan penggunaan session. Kelemahan pada API dicari  karena kesalahan dalam mempraktekkan penggunaan otentikasi, otorisasi, dan session pada API. Dalam penggunaan API dalam suatu sistem, biasanya API pengirim memiliki suatu identitas (key) agar dikenali oleh API penerima. API key ini tersimpan pada aplikasi pengirim yang digunakan untuk keperluan autorisasi misalnya. Meskipun API key ini disimpan secara baik oleh pengirim API, biasanya API key mudah untuk ditemukan oleh hacker. Yang perlu digaris bawahi adalah jangan pernah memperlakukan API key sebagai sesuatu yang rahasia.
  3. Man-in-the-middle, pada hal ini, hacker memposisikan dirinya berada diantara pengirim API (client) dan penerima API. Hacker melakukannya dengan cara mengambil data yang dikirimkan oleh user, lalu mengubah data tersebut, dan diteruskan kepada penerima API. Hal ini dapat terjadi karena data yang dikirimkan oleh client tidak terenkripsi. API yang tidak menggunakan SSL/TLS sangat rentan terhadap serangan ini. Namun sayangnya, kebiasaan developer membiarkan hal ini agar komunikasi antara pengirim API dan penerima API dapat dilihat dengan jelas. man-in-the-middle

 

Untuk menanggulangi ancaman dari ketiga faktor tersebut, API harus dibuat lebih aman dan tetap dapat berfungsi dengan semestinya. Berikut adalah penjelasan cara untuk menanggulangi acaman yang mungkin terjadi pada penggunaan API.

  1. Memvalidasi parameter, langkah pertama yang dilakukan adalah dengan cara memvalidasi semua data yang masuk oleh penerima API, pastikan data yang diterima valid dan tidak menyebabkan kerusakan. Cara yang paling efektif adalah dengan mendeskripsikan input apa saja yang boleh diterima oleh suatu fungsi pada penerima API. Selalu periksa inputan bertipe raw untuk menghindari SQL injection. Selain itu berhati hati dengan serangan denial of service (Dos) yang dapat menyebabkan penerima API menjadi hang atau tidak berfungsi karena menerima begitu banyak data dan ditambah lagi apabila data yang dikirimkan data bertingkat. Gunakan pendeteksi virus untuk memeriksa beberapa konten file apabila penerima API dapat mendecode base64 attachment agar file attachment tersebut benar-benar bebas dari virus.
  2. Gunakan SSL/TLS untuk semua API. Untuk jaman sekarang, SSL bukan hal yang mewah lagi, tapi merupakan kebutuhan yang mendasar sebagai API. Dengan menambahkan SSL/TLS dan menerapkannya dengan benar merupakan hal yang sangat efektif untuk melawan serangan man-in-the-middle. SSL/TLS memberikan kepercayaan integritas pertukaran data diantara pengirim dan penerima API.
  3. Identitas user dan sistem yang menggunakan API merupakan sesuatu yang harus diimplementasikan dan dimanajemen secara terpisah. Selain menggunakan identitas user dan sistem sebagai tambahan keamanan, ada faktor lain yang dapat ditambahakan seperti alamat IP pengirim API, waktu akses API, identifikasi hardware (untuk penggunaan mobile apps), geolokasi, dan lainnya.

Sumber :

https://www.tuliskode.com/mengenal-konsep-application-programming-interface-api/

https://stormpath.com/blog/secure-your-rest-api-right-way

https://www.ca.com/content/dam/ca/us/files/ebook/five-simple-strategies-for-securing-apis.pdf

https://19yw4b240vb03ws8qm25h366-wpengine.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/securing-the-api-stronghold.pdf

https://www.upwork.com/hiring/mobile/tips-for-building-a-safe-secure-api/

https://19yw4b240vb03ws8qm25h366-wpengine.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/securing-the-api-stronghold.pdf

Mengenal Javalite

Javalite merupakan sekumpulan framework yang digunakan untuk menyederhanakan tugas seorang developer dalam membangun aplikasi. Sekumpulan framework yang disediakan oleh javalite yaitu sebagai berikut:

captuasdre

Sekumpulan framework tersebut dapat digunakan sesuai kebutuhan, misal kita akan membuat aplikasi web menggunakan javalite, maka kita dapat menggunakan ActiveWeb untuk aplikasi webnya, dan ActiveJDBC sebagai ORM nya. Pada penerapannya framework ini juga dapat bekerja dengan framework lain, contohnya kita dapat menggunakan ActiveJDBC sebagai ORM pada framework spark, penggunaan JSpec sebagai unit testing pada framework lain, dan masih banyak lagi penggunaan lainnya.

Dengan banyaknya pilihan framework java yang tersedia saat ini, memang javalite bukan framework yang terkenal atau umum digunakan. Namun framework ini dapat menjadi pilihan jika ingin menggunakan framework lain yang lebih “ringan”. Sesuai dengan tagline dari javalite sendiri “light as a feather”, framework ini berdasarkan pengalaman penulis memang tergolong lebih ringan dan mudah digunakan dibandingkan dengan framework yang sudah ada sekarang.

Beberapa kemudahan yang penulis rasakan ketika menggunakan framework ini salah satunya adalah minimnya penggunaan anotasi pada kode. Tidak seperti framework spring atau framework lainnya, javalite tidak banyak menggunakan anotasi.

contoh

Javalite sendiri secara default menggunakan maven sebagai build manager nya, namun bagi yang tidak terbiasa menggunakan maven, framework ini juga dapat menggunakan gradle. seperti framework lain yang menggunakan metode mvc, javalite memiliki tiga komponen penting yaitu Model, View dan Controller. Model pada framework ini menggunakan ActiveJDBC yang disimpan pada direktori src/main/java/app/models,  sedangkan View pada framework ini menggunakan freemarker untuk templating nya yang tersimpan pada direktori webapp/WEB-INF/views, dan Controller yang berfungsi sebagai routing tersimpan pada direktori src/main/java/app/controllers.

berikut contoh struktur project penggunaan javalite (ActiveWeb, ActiveJDBC dan DB Migrator) untuk aplikasi web.

structure

Berdasarkan pada pengalaman penulis menggunakan framework javalite, framework ini memiliki kelebihan dan kelemahan dibandingkan framework lain.

Kelebihan :

  1. Mudah digunakan bagi pemula atau bagi yang baru memulai belajar menggunakan framework java.
  2. Mudah untuk di pelajari, karena tergolong mirip dengan framework mvc lainnya.

Kekurangan :

  1. Dokumentasi yang minim
  2. Tidak memiliki basis komunitas yang besar

Dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki framework ini, penulis menganggap framework ini layak digunakan untuk membangun aplikasi kecil atau menengah, namun tidak disarankan untuk digunakan dalam membangun aplikasi besar atau komersil, mengingat komunitas pengguna framework ini yang tidak besar, dan dokumentasi nya yang minim.

sumber:

  1. http://javalite.io
  2. https://github.com/javalite

Berkenalan dengan Javascript Higher Order Function untuk Array

Halo! Salam, perkenalkan saya Aria, saya adalah salah satu dari tim kontributor baru di blog Akhdani ini, saya tidak ada spesialisasi teknologi, jadi apa ilmu yang saya punya akan saya tuangkan di blog ini.

Untuk postingan pertama di sini, saya akan membahas higher-order function untuk array pada Javascript. Beberapa fungsi ada yang sepertinya sudah sering dipakai, tapi saya akan tetap sedikit membahas untuk semuanya. Fungsi-fungsi ini sebenarnya cenderung functional programming, tapi kita abaikan dulu saja. Nah, apa fungsinya? Salah satunya agar kode program kita sedikit lebih “bersih”, operasi pada array tidak perlu lagi menggunakan looping semacam for atau while.

(Mohon maaf sebelumnya jika ada penjelasan yang masih sulit dipahami, saya berusaha menjelaskan semudah mungkin. Silakan komentari artikel ini jika ada pertanyaan)

Sebelum mulai, diketahui kita memiliki array yang akan melakukan fungsi-fungsi higher-order ini.

var source = [1,2,3,4,5];
  1. forEach

Looping pada semua elemen array, dan menjalankan operasi yang kita berikan.

Contoh:

source.forEach(function(currentValue, currentIndex){
   console.log("index", currentIndex, "isinya", currentValue);
});

// index 0 isinya 1
// index 1 isinya 2
// index 2 isinya 3
// index 3 isinya 4
// index 4 isinya 5

 

  1. filter

Looping pada semua elemen array, setiap elemen yang memenuhi kondisi akan dimasukkan ke dalam array hasil fungsi filter, array sumber akan tetap utuh.

Contoh:

var filterGanjil = source.filter(function(currentValue, currentIndex){
   return currentValue % 2 === 1;
});

console.log(filterGanjil); // [1, 3, 5]

 

  1. map

Looping pada semua elemen array, dan menjalankan operasi pada masing-masing elemen array. Hasilnya adalah array dengan panjang (length) yang sama namun isinya berupa hasil dari operasi pada masing-masing elemen array yang bersesuaian.

Contoh:

var dikaliDua = source.map(function(currentValue, currentIndex){
   return currentValue * 2;
});

console.log(dikaliDua); // [2, 4, 6, 8, 10]

 

  1. reduce

Looping pada semua elemen array, dan menjalankan operasi pada elemen array. Hasil operasi pada elemen ke-i, akan dijadikan parameter untuk operasi pada elemen berikutnya (i+1), sehingga hasil operasi reduce adalah akumulasi operasi pada semua elemen, bukan array. Pendeknya, value yang tadinya banyak (array) menjadi satu saja.

Contoh:

var ditotalin = source.reduce(function(previousValue, currentValue, currentIndex){
   return previousValue + currentValue;
});

console.log(ditotalin); // 15

Untuk reduce, bisa ditambahkan parameter kedua yaitu initial value sebagai nilai permulaan sebelum reduce dieksekusi. Jadi seb

Contoh:

var ditotalin = source.reduce(function(previousValue, currentValue, currentIndex){
   return previousValue + currentValue;
}, 5);

console.log(ditotalin); // 20
  1. reduceRight

Sama seperti reduce, hanya saja dilakukan mulai dari elemen terakhir.

Contoh:

var ditotalinDariKanan = source.reduceRight(function(previousValue, currentValue, currentIndex){
   return previousValue + currentValue;
});

console.log(ditotalinDariKanan); // 15

Sama seperti reduce, reduceRight juga bisa ditambahkan parameter kedua sebagai initial value.

 

  1. some

Looping pada setiap elemen array dan menjalankan operasi pada setiap elemen array, jika ada satu saja yang hasilnya true, maka hasil fungsi some adalah true.

Contoh:

var apakahAdaAngkaTiga = source.some(function(currentValue, currentIndex){
   return currentValue === 3;
});

console.log(apakahAdaAngkaTiga); // true
  1. every

Mirip seperti some namun hasil operasi semua elemen harus bernilai true agar hasil fungsi every adalah true.

Contoh:

var apakahSemuanyaAngka = source.every(function(currentValue, currentIndex){
   return typeof currentValue === "number";
});

console.log(apakahSemuanyaAngka); //true
  1. find

Menampilkan isi elemen pertama yang memenuhi kondisi yang ditentukan, jika tidak ada maka hasilnya adalah undefined.

Contoh:

var angkaYangLebihBesarDariDua = source.find(function(currentValue, currentIndex){
   return currentValue > 2;
});
console.log(angkaYangLebihBesarDariDua); // 3
  1. findIndex

Menampilkan index elemen pertama yang memenuhi kondisi yang ditentukan, jika tidak ada maka hasilnya adalah -1.

Contoh:

var indexnyaAngkaYangLebihBesarDariDua = source.findIndex(function(currentValue, currentIndex){
   return currentValue > 2;
});

console.log(indexnyaAngkaYangLebihBesarDariDua); // 2

Nah, bagaimana kalau mau digabung? Contohnya, setelah difilter, ingin dilakukan map. Caranya adalah dengan method/function chaining, caranya seperti ini:

 var filterGanjilLaluKaliDua = source
   .filter(function(currentValue, currentIndex){
      return currentValue % 2 === 1;
   })
   .map(function(currentValue, currentIndex){
      return currentValue * 2;
   });

console.log(filterGanjilLaluKaliDua); // [2, 6, 10]

Tapi ingat, chaining di atas bisa dilakukan karena hasil dari filter adalah array, jadi masih memiliki method map. Kalau awalnya, misalnya, di­-reduce, hasilnya bukanlah array sehingga tidak memiliki method map.

Sekian saja bahasan sedikit dari saya, jika ada kesempatan maka akan saya bahas lebih dalam, jika ada pertanyaan silakan tulis komentar. Semoga bermanfaat!

Salam…

Membangun Mobile Apps dengan React Native

App

Instagram, Facebook, Pinterest, Uber, SoundCloud Pulse dan Skype.

Pasti sudah tidak asing dengan beberapa aplikasi yang disebutkan diatas. Aplikasi tersebut dibangun menggunakan React Native.

Sudah pernah mendengar React Native sebelumnya?

React Native merupakan framework berbasis JavaScript yang dibuat dan dikembangkan oleh Facebook. Bermula pada tahun 2013, React Native merupakan sebuah proyek internal Facebook Hackathon. Hingga akhirnya Maret 2015, pada F8 Conference, Facebook mengumumkan React Native terbuka untuk publik dan tersedia di GitHub.

Lalu, apa kelebihan React Native dibandingkan dengan framework mobile apps lainnya?

Dengan React Native, kita memungkinkan untuk membangun aplikasi Android dan IOS sekaligus. Aplikasi yang dibangun bukan hybrid atau web, tapi benar-benar native.

Untuk UI dan UX nya sendiri menggunakan CamelCase, yaitu Javascript styling hampir mirip dengan CSS.

Bagaimana cara belajar React Native? Apa sulit? Jawabannya tidak. Bagi pemula, Create React Native App adalah cara termudah untuk membuat suatu aplikasi dengan React Native tanpa menggunakan Android Studio.

Tools penunjang yang digunakan adalah Expo. Expo dapat dipasang di smartphone yang berfungsi sebagai emulator untuk melihat proyek yang sedang dibangun dengan React Native.

 

 

Tunggu apalagi, buka command prompt Anda, ketik syntax berikut, lalu mulai project pertama menggunakan React Native.

$ npm i -g create-react-native-app
$ create-react-native-app my-project
$ cd my-project
$ npm start

Namun pastikan NodeJS dan NPM sudah terpasang di perangkat Anda.

Selamat mencoba! :)

 

Referensi:

Efek Dunning Kruger dan Teknologi Informasi

Keberadaan internet, biaya koneksi dan penetrasi perangkat mobile yang makin terjangkau (terutama Android) telah membuat kita semakin mudah dan cepat menemukan informasi. Tak hanya dari situs-situs berita, kita juga bisa mendapatkan informasi yang di-share di media sosial. Selain informasi, internet juga dapat membuat kita mendapatkan kualitas layanan yang lebih baik dan lebih cepat. Sayangnya, kecepatan menemukan informasi dan melakukan sesuatu ini dapat menjadi candu dan memiliki efek samping, salah satunya adalah tuntutan akan hasil yang instan (sering disebut dengan instant gratification).

Suka tidak suka, paradigma instan makin menyusup dalam kehidupan kita, salah satunya dalam penilaian kita terhadap kompetensi / keahlian diri kita sendiri. Lebih lanjut, hal tersebut menimbulkan ilusi terhadap superioritas. Misalnya, baru baca beberapa artikel sudah merasa jadi orang sholeh. Baru ikut beberapa seminar bisnis, tiba-tiba merasa siap jadi pengusaha dan berkoar-koar bahwa jadi karyawan itu tidak mulia. Nonton acara diskusi politik, tiba-tiba merasa jadi pakar politik.

road-to-success

Ditambah mentalitas intimidatif, judgement plus hobi mem-bully, ilusi superioritas membuat media sosial (atau di era pra-medsos dulu berupa mailing list) menjadi makin “berisik”. Kalau orang lain tidak sepaham / sepemikiran, maka dianggap pasti salah, karena kita merasa “paling” (paling benar, paling tahu, paling pintar). Kalau kehabisan argumen, kita tiarap dulu. Buka Google, cari informasi, kalau hasil googling ternyata kurang mendukung argumen kita, cari terus sampai halaman kesekian, yang penting mendukung argumen kita hehe :)

Namun, fenomena mengganggu dan menyebalkan di atas ternyata lumrah jika dilihat dari sudut pandang psikologi, ilusi superioritas ini disebut dengan efek Dunning-Kruger. Efek Dunning-Kruger adalah bias kognitif yang terjadi pada orang yang tidak kompeten plus memiliki pengetahuan dangkal pada tugas/area tertentu, dimana mereka cenderung menakar kemampuan diri di atas kenyataan yang ada dan menganggap mereka jauh lebih kompeten dibandingkan orang lain serta mengabaikan ketidaktahuan mereka sendiri.

dunning-kruger-chart

Penelitian David Dunning dan Justin Kruger (keduanya dari Cornell University) diinspirasi oleh perampok bank bernama McArthur Wheeler yang sangat over-confidence. Wheeler menggunakan sari lemon pada wajahnya sebelum merampok dua bank di Pittsburgh pada tahun 1995. Wheeler sangat percaya bahwa sari lemon merupakan invisible ink yang dapat membuat wajahnya tidak terekam kamera keamanan. Malam harinya pada hari yang sama, Wheeler ditangkap dan ketika diperiksa oleh polisi, reaksi Wheeler adalah terkejut dan masih tidak percaya bahwa rencana briliannya bisa gagal.

Menurut Dunning, bias kognitif tersebut terjadi karena :

“If you’re incompetent, you can’t know you’re incompetent. The skills you need to produce a right answer are exactly the skills you need to recognize what a right answer is.”

Para pemuda yang masih sangat bersemangat relatif lebih rentan mengalami efek Dunning-Kruger. Sewaktu kuliah, mata kuliah pemrograman di Informatika ITB tidak menekankan pada penguasaan bahasa pemrograman, namun lebih kepada pemahaman algoritma, bukan kepada tools. Beberapa kawan yang pernah ngoprek bahasa pemrograman dari SMP/SMA ada yang merasa tidak nyaman, karena hal yang pernah dipelajari sebelumnya dibabat habis, mereka harus legowo dan learn to unlearn secara bersamaan dengan proses learning yang baru. Uniknya di akhir semester, nilai mata kuliah beberapa kawan yang tidak pernah belajar pemrograman (bahkan ada yang baru belajar menghidupkan komputer ketika kuliah) ternyata bisa lebih tinggi ketimbang yang sebelumnya pernah memprogram.

Bagi beberapa kawan, perkuliahan juga terkesan membosankan dan ketinggalan dibanding kawan-kawan dari kampus lain. Kawan di kampus lain sudah membuat program GUI, HTML hingga mengakses SQL, sementara kami masih console/text based, sorting dan struktur data. Namun beberapa tahun kemudian ketika kami melakukan rekrutmen programmer, ternyata terbukti pengajaran dasar yang benar akan menghasilkan programmer dengan kemampuan problem solving yang lebih terstruktur.

Selepas kuliah, di awal pendirian perusahaan, kami sempat meragukan beberapa saran dari mentor. Saran-saran tersebut bagi kami terasa sangat pragmatis, tidak keren dan tidak kekinian (pada waktu itu), apalagi jika dibandingkan dengan perusahaan baru lainnya (jaman itu belum booming istilah startup / perusahaan rintisan). Jujur, sempat muncul arogansi bahwa kami merasa lebih tahu mengenai jaman dan masa depan :P . Beruntung, kami menuruti saran mentor tersebut. Dua – tiga tahun kemudian barulah terlihat ternyata saran yang disampaikan benar adanya.

Perlu kita pahami bahwa semua bias kognitif adalah natural dan manusiawi. Oleh karena itu, efek Dunning-Kruger bisa dialami pada berbagai lapisan usia maupun jenis profesi. Faktor kultur organisasi / industri juga bisa memiliki pengaruh. Fenomena argumentasi tanpa tanggung jawab atau debat kusir akan relatif lebih sedikit kita temui di bidang kedokteran dan militer jika dibandingkan dengan bidang lain seperti Teknologi Informasi.

Terkait dengan efek Dunning-Kruger di bidang Teknologi Informasi, berikut ini beberapa contoh yang pernah kami temukan :

  • klien yang memiliki kompetensi ilmu hukum bisa merasa jauh lebih kompeten dalam membuat software ketimbang konsultan IT yang mereka hire sendiri dan menganggap konsultan IT mereka tidak melakukan apa-apa (Anda bisa mengganti ilmu hukum dengan bidang-bidang lainnya, tidak ada maksud merendahkan ilmu hukum)
  • para script kiddies yang baru belajar hacking lebih banyak berkoar-koar ketimbang hacker profesional
  • programmer software bisa merasa lebih jago mengenai HRD daripada praktisi HRD yang minta dibuatkan software-nya
  • klien merasa lebih jago dan update tentang web design ketimbang web designer
    classics : http://theoatmeal.com/comics/design_hell
  • non-programming programmer yang beberapa kali kami temukan dalam tes rekrutmen Akhdani. Yang kami amati, beberapa individu yang merasa sudah menjadi programmer berpengalaman tersebut tidak memahami konsep fungsi/prosedur, kondisional dan variabel dengan baik. Jadi mereka lebih banyak menggunakan copy-paste + trial error ketimbang analisis masalah dan memahami kode
  • hasil ngobrol dengan beberapa kawan, laju kenaikan expected salary programmer pemula semakin tinggi, di atas inflasi dan tidak sebanding dengan hukum permintaan-penawaran / kelangkaan. Kehadiran Google dan Stackoverflow sepertinya membuat banyak orang merasa lebih kompeten ;)

Beruntung kami tidak terlalu lama terjebak efek Dunning-Kruger di awal-awal perusahaan. Adalah wajar dan manusiawi jika kita mengalami efek Dunning-Kruger, yang lebih penting adalah bagaimana meminimalisir dampak negatifnya, misalnya :

  • Menerapkan prinsip adab sebelum ilmu
    Prinsip klasik yang sering diajarkan di pesantren ini bisa membuat kita berpikir dan lebih hati-hati dalam bersikap, berpendapat dan mengambil tindakan. Efek Dunning-Kruger cenderung akan berakibat negatif apabila dikonkritkan dalam bentuk tindakan spontan dan minim pikir, seperti kasus perampokan bank oleh McWheeler dan kebisingan perdebatan di media sosial
  • Terus belajar dan berusaha menambah pemahaman
    Sebagaimana bisa kita lihat pada grafik di atas, makin bertambahnya pemahaman akan menurunkan level kepercayaan diri karena kita merasa ternyata banyak yang belum kita ketahui, dan fase awal ini akan memicu pembelajaran yang lebih dalam hingga pada titik tertentu kepercayaan diri kita berbalik naik kembali.

Sejalan dan koheren dengan kutipan yang dipopulerkan Steve Jobs

“stay hungry, stay foolish”

Seorang ulama Islam, Imam Al-Ghazali pernah menyampaikan ada 4 jenis manusia, yaitu :

  1. Seseorang yang tahu (berilmu), dan dia tahu kalau dirinya tahu
  2. Seseorang yang tahu (berilmu), tapi dia tidak tahu kalau dirinya tahu
  3. Seseorang yang tidak tahu (tidak atau belum berilmu), tapi dia tahu alias sadar diri kalau dia tidak tahu
  4. Seseorang yang tidak tahu (tidak berilmu), dan dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu

Di era overload informasi seperti sekarang, sangat mungkin jika kita mengalami promosi-degradasi posisi antara nomor 1 hingga 4. Yang penting adalah cepat menyadari apabila kita sedang berada pada posisi nomor 4.

Disclaimer : penulis bukan praktisi psikologi dan tidak pernah masuk pesantren, oleh karena itu sangat mungkin ada efek Dunning-Kruger dalam tulisan ini sendiri, harap dimaklumi, cheers ;)

Bacaan lainnya :

https://en.wikipedia.org/wiki/Dunning–Kruger_effect

https://en.wikipedia.org/wiki/Invisible_ink

http://arstechnica.com/science/2012/05/revisiting-why-incompetents-think-theyre-awesome/

https://mindhacks.com/2010/02/11/the-burglar-with-the-lemon-juice-disguise/

https://blog.codinghorror.com/the-nonprogramming-programmer/

Google Doodle : Prof. Samaun Samadikun

Google Doodle hari ini menampilkan seorang sosok asal Indonesia, Prof. Samaun Samadikun. Profil dan perjalanan Prof. Samaun, dapat ditemukan pada Wikipedia dan buku Sang Petani Silikon terbitan LIPI. Salah satu cerita yang pernah saya dengar, sepulang dari Stanford beliau bermimpi ada Silicon Valley di Indonesia. Beliau berhasil melobi Fairchild Semiconductor untuk menggerakkan industri semikonduktor Indonesia. Namun pemerintah pada saat itu tidak tertarik karena industri semikonduktor tidak padat karya, sementara Fairchild beranggapan sudah saatnya menerapkan padat teknologi. Fairchild pun akhirnya hengkang ke Malaysia.
FYI, Robert Noyce dan Gordon Moore adalah founder Fairchild yang kemudian mendirikan Intel.

Fun facts : secara tidak langsung Prof. Samaun juga memiliki andil terhadap Akhdani, kok bisa? Tentu saja, karena Prof. Samaun adalah guru bagi para mentor kami di PAU pada saat itu (Pak Kastam Astami, Pak Basuki Suhardiman, dkk). Ilmu dan cara berpikir yang kami terima dari mentor-mentor kami, sedikit banyak pasti ada pengaruh dari Prof. Samaun. Beliau juga menjadi guru bagi para aktivis seperti Pak Budi Rahardjo (semasa jadi mahasiswa tingkat 1, penulis pernah memakai user & password pak Budi untuk akses internet gratis di kampus, apalagi saya bukan mahasiswa Elektro, mohon maaf pak :D ) dan Pak Onno W. Purbo.

Cikal bakal Akhdani dimulai dari rapat-rapat 10 orang mahasiswa Informatika di lantai 2 gedung Labtek V ITB dan episode prequel kemudian berlanjut ke sebuah ruangan bekas gudang di gedung PAU ITB lantai 2. Walau bekas gudang, tapi ada meja, stop kontak listrik dan akses internet. Internet adalah barang mewah pada saat itu bung …. :) . Pada era ini, seingat penulis, kami sempat sedikit membantu dan bekerja sama dengan beberapa tim riset PAU, seperti :

  • Radiosonde
  • Pemanfaatan Pengenalan Citra untuk menghitung jumlah kendaraan di pintu tol jasa marga
  • Remote surveilance dengan kompresi video via GPRS streaming pada pesawat RC (jaman itu belum ada drone, HSDPA apalagi LTE, action camera GoPro ya :) )
  • AMR untuk membaca meter listrik secara otomatis
  • Mobile Telemedicine, perangkat ala koper James Bond berisi monitor (diambil dari LCD laptop), ECG, modem, dll. Memungkinkan tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan kesehatan dan mengirim data kesehatan pada daerah rural

Episode di PAU memberikan banyak pengalaman dan melandasi pemikiran bahwa :

  • untuk mendapatkan impact yang lebih besar kita harus bisa bekerja sama dalam tim multi-disiplin
  • jangan terjebak dalam arogansi keilmuan atau pengkotak-kotakan, misalnya Informatika, Elektro, software vs hardware, marketing vs engineer. Semua punya peran masing-masing, saling mengisi.
  • jangan mengecilkan orang lain, tidak ada orang yang bisa sukses sendirian tanpa bantuan orang lain

Penulis sempat sekali bertemu Prof. Samaun dengan kemeja putihnya di lift PAU ITB. Beliau memperlihatkan gestur memberikan kesempatan pada penulis agar masuk lift terlebih dahulu ketimbang beliau, padahal apalah artinya penulis ini dibanding beliau. Aura beliau menunjukkan kesederhanaan dan respek kepada orang lain. Benar-benar manifestasi dari prinsip adab sebelum ilmu. Prinsip yang sayangnya makin dilupakan masyarakat sekarang di era internet dan sosial media yang kekinian.

Waktu itu, program-program inkubasi start up belum lah semeriah sekarang. Dua tahun di PAU, kami merasa tidak enak terus menerus dibantu, terutama oleh Pak Kastam. Kami kemudian memberanikan diri keluar dari zona nyaman untuk mandiri dan membuat perusahaan dengan nama Akhdani Reka Solusi, kantor pertama kami waktu itu di depan pasar Citamiang Bandung. Ruangan ngoprek di gedung PAU ITB lantai 2 kemudian kami estafetkan kepada adik kelas Informatika angkatan 2003. Di tahun yang sama dengan berdirinya Akhdani secara de facto, Prof. Samaun berpulang kepada Ilahi karena sakit.

Pak Harry Sufehmi (seorang praktisi IT) sewaktu SMA ternyata juga pernah bertemu dan mendapatkan inspirasi dari beliau. Semoga ke depan makin banyak tokoh seperti Prof. Samaun Samadikun. Visioner, humble, penuh mimpi dan dapat menjadi teladan bagi generasi muda, terutama dalam prinsip adab sebelum ilmu.

Bacaan lainnya :

Membaca Akhdani

image

Dalam beberapa kesempatan ada beberapa kawan yang menanyakan konsep apa yang dipakai dalam menjalankan perusahaan (Akhdani Reka Solusi – ARS) selama hampir 10 tahun ini. Buat kami itu adalah pertanyaan gampang-gampang susah,  mengingat pada dasarnya latar belakang kami adalah software engineer. Modal saya pribadi ya membaca buku & bertanya kepada orang-orang yang saya anggap lebih mumpuni.

Kebetulan tahun lalu saya membaca artikel yang menyebutkan beberapa buku yang melandasi konsep pemikiran Ridwan Kamil dalam mengelola kota Bandung, yang saya catat antara lain :

  • The Rise Of Creative Class
  • Cities and the Creative Class
  • The Flight of the Creative Class
  • Who’s Your City

Buku pada list di atas, semuanya merupakan buah pemikiran Richard Florida. Terinspirasi artikel tersebut, jadi ada ide untuk membuat tulisan dengan judul di atas, sekaligus dalam rangka menuju 10 tahun ARS.

Singkat saja, untuk “membaca” konsep-konsep yang dijalankan ARS, kawan-kawan bisa membaca beberapa buku berikut ini :

Pada kesempatan lain saya akan mencoba membahas secara singkat mengenai ide-ide dan pemikiran yang disampaikan oleh buku-buku di atas, harap maklum #soksibuk :D

Evaluasi Untuk Para Enterpreneur Pemula Part-2

Lanjutan dari tulisan sebelumnya

  1. Hati-hati dengan pendapatan dan gaya hidup

    Ketika bisnis mulai bagus, biasanya pendapatan akan mulai terlihat. Uang sering kali bisa mengubah karakter orang. Berhati-hatilah dengan sifat hati kita yang mudah berbolak-balik. Harap diingat bahwa uang hanyalah alat tukar, bukan tujuan. Kembali lagi ke tujuan awal kita ini bisnis untuk apa, diharapkan bisnis yang membawa manfaat. Pendapatan boleh naik, tapi gaya hidup tetap sederhana dan naikkan sedekah.

  2. Hati-hati dengan motivasi berlebihan

    Hati-hati dengan provokasi “Keluar Kerja!”, “Pakai Otak Kanan! Gak usah mikir” dan jebakan-jebakan semangat lainnya yang kadang menghilangkan akal sehat. Lagi-lagi ini pisau bermata dua, maksudnya secara positif di sini adalah penyemangat bagi orang- orang yang sudah siap untuk berbisnis tapi belum juga berani full berbisnis. Penyemangat ini bukan untuk mereka yang mudah putus asa, tidak punya basic berbisnis, dan masih labil.

    Kita harus paham, ketika memutuskan berbisnis itu cuma dua kemungkinannya: tambah sejahtera dan tambah bangkrut. Dan segala hal yang diputuskan tanpa persiapan selalu gagal pada akhirnya. Bisnis butuh banyak sekali persiapan, jangan terburu-buru. Banyak juga karyawan yang gajinya besar (bisa mencapai ratusan juta) dan hidupnya tenang-tenang saja.

    Jadi, tidak bisa menjadi alasan yang 100% benar, jika kita memilih menjadi pebisnis dengan tujuan untuk mendapatkan uang yang banyak, karena jadi karyawan pun sangat bisa. Jangan sebagai pebisnis kita banyak omong, merasa tinggi dan menghakimi profesi karyawan, sementara pendapatan kita bisa jadi belum sampai sepersepuluh dari karyawan.

  3. Fokus

    Walau akan banyak peluang yang terlewat, dengan fokus kita akan belajar memahami kuda-kuda yang kuat, kesabaran, logika, pola, dan kesiapan ketika ada peluang yang datang.

  4. Tidak ada salahnya bekerja lebih dahulu

    Tidak semua orang bisa langsung menjadi pebisnis. Ketika Anda bekerja
    terlebih dulu, Anda dapat melihat dari hulu ke hilir bagaimana keseluruhan industrinya sampai akar-akarnya. Pengalaman ini akan membantu Anda ketika nanti berbisnis. Jika Anda tidak mau belajar terlebih dahulu, maka carilah partner yang sudah memahami industrinya sampai ke akar-akarnya. Pertanyaannya, apakah ada partner berpengalaman yang mau bermitra dengan orang yang belum berilmu? Bisa saja jika Anda direkomendasikan oleh seseorang yang sangat terpercaya. Di sinilah pentingnya integritas diri dan kepercayaan dari pihak lain.

  5. Catat dan coba mengerti akuntansi

    Bisnis berbicara tentang angka, bukan perasaan. Anda harus bisa menjawab pertanyaan mengenai performa bisnis dengan angka-angka, konsekuensinya semua harus tercatat. Pencatatan dalam bisnis adalah akar, oleh karena itu, suka tidak suka kita harus mempelajari ilmu akuntansi. Apabila tidak ingin mengerti akuntansi, ajak partner yang mengerti, namun tidak serta-merta menghilangkan kewajiban bagi Anda untuk mempelajari akuntansi. Kembali lagi, apakah ada partner yang mau diajak oleh orang yang malas belajar?

  6. Buatlah bisnis untuk memenuhi kebutuhan pasar, bukan keinginan pribadi/tim

    Disinilah riset diperlukan, secara online kita punya tools semacam google keyword planner tools, google trend, FB audience insight, hingga paper-paper baik secara makro maupun mikro. Butuh riset mendalam, jangan berbasis asumsi. Bisnis itu dunia riil, apalagi jika menjadi tulang punggung utama, kalau kita tidak dapat pendapatan, ya bakal sengsara.

  7. Perbaiki hubungan dengan orang tua dan pasangan hidup

    Boleh percaya atau tidak, jika hubungan dengan orang tua tersumbat, maka aliran rezeki juga akan tersumbat. Jangan-jangan segala usaha, ilmu, doa, tim kompak tapi kok masih mentok juga, bisa jadi kita masih terhambat karena punya dosa terhadap orang tua. Demikian juga terhadap pasangan hidup (suami atau istri).

  8. Jadilah SUBYEK, jangan terus menerus jadi OBYEK

    Anda harus sadari memiliki kuasa atas diri sendiri. Dalam konteks bisnis kita juga harus menjadi pemimpin, sebelum berkuasa atas orang, kita harus bisa menguasai diri kita sendiri terlebih dahulu.

    Leadership adalah aspek penting dalam bisnis. Ketika kita masih jadi obyek yang disuruh-suruh, karena kita sendiri tidak memiliki inisiatif, maka bisnis kita tak akan pernah maju. Jadilah subyek, mulailah dengan berinisiatif atas masalah-masalah yang terjadi di sekitar kita. Hadapi masalah dan selesaikan, jangan nunggu disuruh, karena kita bukan pesuruh.

    Dan bedakan antara leader dan boss. Boss hanya sekedar menyuruh /  memberikan perintah, sementara leader akan cenderung menggerakkan melalui  teladan dan contoh.

Evaluasi Untuk Para Enterpreneur Pemula

Postingan berikut ini kami dapatkan dari sebuah group WhatsApp, mengenai evaluasi & pengingat kepada enterpreneur pemula. Mencakup ketenaran, lomba, fokus, financial literacy, pendapatan, motivasi, akuntansi dan lain-lain. Sayangnya belum kami temukan sumber penulis aslinya untuk dicantumkan (Adakah yang tahu?). Mengingat isinya cukup bermanfaat bagi para enterpreneur, maka layak untuk dicatat dalam blog ini, dengan beberapa modifikasi tentunya. By the way, setelah running business selama 9 tahun, kami pun masih merasa sebagai pemula :D .

15 Evaluasi & Pengingat untuk Para Entrepreneur Muda Pemula :

  1. Hati-hati dengan publikasi dan ketenaran

    Seiring dengan perkembangan bisnis, akan ada masa dimana media akan menghampiri atau orang-orang / komunitas mengundang jadi pembicara. Hal ini adalah pedang bermata dua. Ingat, bagaimana pun kita ini bukan artis atau pembicara, kita adalah pebisnis. Jangan sibuk jalan-jalan terus, namun
    bisnis riil kita ternyata malah tidak berjalan. Jangan sibuk ngomong ke orang lain, eh sama karyawan malah diomongin dari belakang :( . Jangan-jangan pendapatan kita malah berasal dari kegiatan sebagai pembicara, bukan dari bisnis riil :D

  2. Menang lomba tidak menggambarkan sehatnya bisnis kita

    Juara lomba diputuskan oleh orang luar dan sifatnya subyektif, bisa jadi yang jadi penilai juga bukan praktisi. Bahkan terkadang, lomba yang diadakan memuat kepentingan dari pihak yang punya lomba, entah kepentingan Public Relation, branding, atau CSR sekedarnya agar laporan pajak aman. Belum tentu mereka juga peduli dengan bisnis kita. Ikut banyak perlombaan boleh, tapi jangan melupakan aspek how to build business, karena kita bukan sedang berlomba, tapi sedang berbisnis.

  3. Membaca kesehatan bisnis (financial literacy)

    Kita bisa tahu bisnis kita sehat, secara sederhana dari melihat 3 hal : laporan laba rugi, neraca, dan cashflow. Laporan laba rugi memperlihatkan seberapa untung bisnis yang kita jalankan. Neraca menggambarkan seberapa banyak kekayaan dan aset yang kita punya. Cashflow memperlihatkan seberapa liquid perputaran uang kita dan menggambarkan seberapa lama perusahaan kita bisa bertahan “berpuasa”. Tiga laporan keuangan tersebut sebaiknya harus dikuasai sebelum berbisnis.

  4. Praktek, evaluasi dan optimasi

    Stop ikut seminar-seminar, training-training ketika sudah 2 tahun tidak ada perubahan. Bisa jadi kita sedang terperangkap oleh genjutsu (naruto : ilmu
    mempengaruhi 5 indra) dari pembicara. Untuk tahun-tahun pertama memang sangat disarankan untuk ikut seminar-seminar dasar tentang bisnis. Tapi, trennya, masih banyak yang tidak keluar dari jeratan seminar-seminar atau training selama bertahun-tahun, bahkan hal ini berkembang menjadi salah satu industri sendiri yang menjamur.

    Mereka yang ikut seminar berkali-kali sampai hafal materi pembicara dan akhirnya nyoba-nyoba buka seminar sendiri. Tadinya mau bisnis kuliner, eh malah jadi pembicara bisnis kuliner yang jika dilihat dengan poin (3) di atas sebenarnya bisnisnya amburadul. Di lapangan, orang seperti ini banyak.

  5. Be objective

    Jangan terlalu kagum berlebihan dengan orang-orang yang kita anggap sukses, bisa jadi ternyata hanya sekedar pencitraan saja. Coba kenal lebih dalam dengan mereka, bisa jadi Anda akan menemukan banyak hal yang berbeda dari pencitraan orang-orang yang Anda kagumi.

    Bagi yang muslim, Islam telah mengajarkan untuk mengenal orang yaitu dengan cara: menginap bersamanya minimal 3 hari, berpergian jauh bersama, dan berbisnislah bersama mereka.

  6. Segera hilangkan rasa bahwa diri ini hebat

    Mungkin komunitas atau lingkungan Anda akan menganggap Anda sudah hebat, tapi di luar sana ada yang jauh berkali-kali lipat lebih hebat dari Anda. Mungkin, saat ini Anda disandingkan dengan para orang-orang hebat di luar sana, tapi sebenarnya belum pantas. Yang terjadi akhirnya muncul jebakan “merasa hebat”. Ketika sudah muncul, maka kita akan merasa ilmu, pengalaman, kejeniusan kita telah berada pada level / ruang orang yang sebenarnya lebih tinggi dari kita. Kemudian, kita tak akan pernah bergerak kemana-mana.

  7. Jangan cepat mau jadi boss atau menjadi orang atas

    Ada sindrom pada anak muda cerdas merasa layak untuk diberi tempat dan penghargaan ini itu dalamw aktu yang relatif singkat. Akhirnya muncul keangkuhan dan menilai apa-apa dari kacamata sendiri. Merasa harus dihargai berlebih, sementara perbandingan yang dipakai bukanlah perbandingan yang objektif.

    Kita akan terjebak tidak mau belajar dari bawah, karena merasa sudah di atas sehingga susah untuk bekerjasama jika ada pada posisi menjadi bawahan.Jika hidup rata-rata manusia 60an tahun, tidak apa-apa dalam usia 22 tahun jadi bawahan dulu selama beberapa tahun, anggap beberapa tahun tersebut sebagai waktu belajar bagaimana menjadi atasan.

    Wah panjang juga ya, bersambung ke Part 2

Akhdani Culture Series : Result Oriented

Beberapa kenalan menyarankan kami berbagi mengenai budaya kerja / corporate culture di Akhdani yang mungkin cukup unik bagi mereka. Karena admin sedang (beralasan) banyak pekerjaan, maka sebagai awalan, berikut ini adalah hasil copy paste dari tulisan blog (sayangnya sudah mati suri) salah satu founder sekaligus direksi, ditulis pada tahun 2009, mengenai prinsip result oriented. Tulisan tersebut bisa jadi adalah salah satu dokumentasi pertama mengenai kultur kerja di Akhdani sejak 2006.


Sesi Mimpi : anti penindasan korporat

Dulu waktu mentoring agama Islam (saya mentor cadangan dengan pengetahuan syar’i yg pas-pasan :D ) di kampus, beberapa adik kelas menanyakan kenapa kok jadi pengusaha, apakah karena potensi memiliki pendapatan hingga tak terbatas ? Sebenarnya alasan utamanya bukan itu, lebih kepada passion, saya jadi pengusaha sebenarnya lebih karena :

  • Tidak cocok dengan jam kerja kantoran yang fixed
  • Tidak suka dengan atasan yang seenaknya, tidak mau mengerti apakah stafnya punya masalah atau tidak. Tidak semua atasan seperti itu, namun populasi atasan yang baik pasti langka :D
  • Otak technical saya sepertinya moody, lebih sering “hidup” dan kreatif di waktu santai ketimbang office hours:D
  • Tidak suka dengan office politics. Kedua ortu saya berstatus PNS dan karyawan, beliau berdua terkadang menceritakan beberapa dampak office politics yang mereka alami .. :) banyak bekerja & berprestasi tapi sering kali tidak dihargai karena berbagai faktor non objektif, ide-ide yang dicuri oleh teman sekantor sendiri, teman sekantor yang tidak mau action, tetapi luar biasa menjilatnya kpd atasan, dsb …
  • Sepertinya lebih menyenangkan membuka lowongan kerja ketimbang mencari pekerjaan, lebih bermanfaat bagi orang lain :)

Jadi boleh dikatakan bahwa saya mungkin termasuk orang yang cukup anti “penindasan korporat”. Contoh penindasan korporat : saya pernah meeting sore hari dengan 2 ibu dari sebuah perusahaan IT besar, ketika sudah maghrib dan meeting selesai ternyata mereka masih ada meeting dengan bos jam 20, lantas nasib suami dan anak-anaknya gimana? Mereka sempat curhat : harus datang jam sekian, dan pokoknya harus kerja padahal di rumah sedang ada masalah. Dimarahi bos karena membantu mengurusi tetangga yang meninggal dunia, dsb.

Karena saya tidak ingin diperlakukan seperti itu, jadi saya tidak boleh memperlakukan orang lain seperti itu. Beberapa efek pemikiran anti “penindasan korporat” ini di kantor antara lain :

  • karyawan boleh datang tidak tepat waktu
  • boleh bekerja di rumah dulu atau di kampus, kemudian datang untuk koordinasi
  • boleh main game di kantor, asal jangan main game sepanjang hari
  • dan beberapa kebebasan lain

Namun tentunya dengan beberapa syarat :

  • target pekerjaan tercapai, deadline tidak boleh lewat
  • kalau telat atau tidak masuk memberi tahu pihak berwenang :)
  • tidak merugikan/merepotkan orang lain
  • maklum dengan gaji yang tidak terlalu besar dibandingkan perusahaan lain yang sejenis, jadi jangan menuntut terlalu banyak dulu hihi :D

Pak Harry Sufehmy mungkin menyebutnya dengan istilah KBH / result oriented:) . Baru-baru ini, ketika browsing, saya menemukan link berikut ini :
http://askmonty.org/wiki/index.php/The_hacking_business_model

Dokumen tersebut dibuat berdasarkan pengalaman di masa-masa awal MySQL AB dan perusahaan open source lainnya. Banyak hal-hal ingin saya terapkan di perusahaan liliput saya, ternyata tertulis di dokumen tersebut. Sambil menerapkan pola result oriented ini, sebenarnya masih ada beberapa pertanyaan yang mengganjal :

  • Saya sebenarnya masih ingin memberikan beberapa benefit lagi, seperti waktu cuti yang lebih banyak, asuransi kesehatan, bonus Idul Adha : terserah untuk beli qurban atau keperluan lainnya, dsb. Namun apakah karyawan akan memberikan kontribusi maksimal seiring dengan kebebasan yang diberikan perusahaan ? Jujur saja, perilaku orang Indonesia cukup “unik”, dulu beberapa kali saya menemui orang-orang yang tidak tahu berterima kasih, malah cenderung menusuk walaupun sudah dibantu, hanya berfikir keuntungan jangka pendek dan memanfaatkan niat baik orang lain :(. Saya berharap rekan-rekan yang kami rekrut tidak seperti itu dan hingga saat ini alhamdulillah belum ada.
  • apakah klien beranggapan bahwa kami profesional dengan pola kerja seperti ini ?

Well, sejauh ini alhamdulillah beberapa mitra masih percaya dengan kinerja perusahaan liliput ini, dari 2006 perusahaan konsisten mencetak laba. Prediksi saya tantangan dan ujian sebenarnya terhadap pemikiran anti “penindasan korporat” ini akan datang ketika perusahaan ini makin membesar, makin banyak kontrak pekerjaan dan makin banyak orang bergabung sebagai anggota perusahaan. Buat teman-teman dan rekan kerja, saya mohon doanya moga-moga rezeki perusahaan liliput ini dilancarkan dan tetap anti penindasan korporat, amiin…